75.Barokah Nawawi Kumandang Takbir

 75.Barokah Nawawi


Kumandang Takbir



Takbir berkumandang dari surau-surau dan masjid

Menyerukan nama Mu Yang Agung berkali-kali tanpa henti

Melingkar-lingkar di angkasa menuruni lembah dan bukit

Menghunjam kedalam hati menimbulkan haru yang sangat lembut

Serupa suara hangat dari sorga yang mendaraskan melodi rindu. 



Ramadhan terakhir telah tiba

Ada rasa yang menyesak dalam dada

Belum puas rasa hati ini memohon ampunan Mu

Memeluk malam-malam terakhir Mu yang terasa semakin sahdu

Gelisah hati yang bergelimang dosa rasanya belum juga sirna

Dan esok hari kemenangan yang banyak dinyatakan orang telah tiba

Hari kemenangan yang tak kunjung bisa aku pahami

Karena aku sendiri tak tahu apakah puasaku Engkau terima

Apakah puasaku hanya sekedar menahan lapar dan dahaga

Tanpa esensi hakekat puasa yang sebenarnya. 



Takbir terus berkumandang semakin jauh

Iringan santri mengular panjang mengitari pedesaan

Dengan hentakan rebana yang riuh

Seperti pawai kemerdekaan yang gemuruh

Menyambut Hari Kemenangan Fitri. 



Purworejo, Mei 2022
















Barokah Nawawi, lahir di Pacitan 18 Agustus 1954. Menulis sejak remaja, kumpulan puisi tunggalnya Bunga Bunga Semak, diterbitkan Pustaka Haikuku Bandung 2018.Antologi haiku Pancaran Hati, diterbitkan Pustaka Haikuku 2019.Setia ikut antologi puisi Ramadhan di Group Lumbung Puisi sejak 2018. Barokah adalah pensiunan PT Telkom, dan domisili terakhir di Pakem, Gebang, Purworejo.









Komentar