77.Gilang Teguh Pambudi Tarawih Cinta

 77.Gilang Teguh Pambudi


Tarawih Cinta


anak-anak itu

bak jemari tangan tengadah

bunga mekar bermadah 

depan musola dan mesjid

pada malam pertama sebelum tarawih


sukacita

senyumnya amboi purnama matang segera


bergerombol daun sembilan 

bersarung motif garis penghambaan 

berpeci menegak diri, miringnya kesantunan 


di terang lampu anak-anak gadis mama 

mendekap mukena dengan hatinya

jilbab dan rambutnya dihembus malam sejuk 


membangun kenangan mereka 

di mata kamera malaikat

kelak jadi cerita langit, 

"Kemana sekarang Si Fulan?

Ramadan tak mau kehilangan.

Kesetiaan berbalas kesetiaan"

Kemayoran, 04 2022









Gilang Teguh Pambudi


Hati Yang Membeli


terang datang 

disambut matahari matahati 

ditunggu gunung yang lama rindu

ketika kota-kota tak perlu kacamata baca

sempurna melihat rupa mencium harum


lanang datang

tepat pada jarum jam saat mendetak

hangat tubuhnya pelukan 

cinta membeli mesra 

telapak kakinya bergambar hikmah 

perjalanan dan kenangan


kata-katanya tak ada yang asing

berangkat dari kitab yang dikenal

ke negri yang sudah dimiliki

tunai, menepati janji


Kemayoran, 04 2022












Gilang Teguh Pambudi, anak perkebunan dan orang radio yang seorang penyair (penulis). Tinggal di Kemayoran. Lahir di perkebunan kopi Curug Sewu Kendal, Jawa Tengah, tetapi dari masa kanak-kanak domisili di perkebunan di Jawa Barat. Setelah meninggalkan kegiatan mengajar di kelas, dari tahun 1992 aktif sebagai Orang Radio Indonesia. Sebagai penyiar, jurnalis, programmer, kepala studio dan narasumber Apresiasi Sastra sampai menerbitkan buku tips sukses, Orang Radio. Puisi-puisi dan cerpennya termuat dalam surat kabar dan berbagai buku antologi bersama selain antologi tunggal. Beberapa buku antologi puisi tunggalnya adalah, Syair Wangi, Air Situ (dimuat ulang dalam Nokturno), JALAK (Jakarta Dalam Karung), TAGAR (Tarian Gapura), Mendaki Langit, Zira (Planetarium Cinta), Orang Radio, Bumi Cintaku, dan Hari Kesaktian Kopi. Adapun catatan harian puisinya terbit dalam buku, Dinding Puisi Indonesia.













Komentar