79.Sukma Putra Permana
Sampah Atas Nama Ramadhan
Atas nama Ramadhan.
Tali kekang nafsuku semakin sulit dikendalikan. Berlebihan ingin mencicipi serta membeli
segala macam jajanan. Sering melakukan kemubaziran dengan menyisakan banyak makanan.
Tiada perasaan pada kaum miskin yang kelaparan.
Atas nama Ramadhan.
Uang pengeluaranku bertambah demi membeli lezatnya beraneka hidangan. Sedangkan
jumlah mulut dan perut tak ada penambahan. Yang juga bertambah adalah sampah dari sisa-
sisa bungkus panganan. Dan sampah dari sisa-sisa makanan yang tak kuhabiskan.
Atas nama Ramadhan.
Dengan senang hati aku lakukan kemubaziran. Dengan penuh kesadaran aku tumpuk sampah
dalam kehidupan.
Ramadhan 2022
Sukma Putra Permana
Tuntunan Berpuasa Versus Tuntunan Sekitar Perut Saja
Ceramah Pak Ustadz dalam menyambut Bulan Puasa:
"Ramadhan yang mulia telah tiba. Saatnya kita kembali menahan hasrat jasmani. Supaya
merasakan haus-lapar kaum tak punya. Sehingga hati senantiasa ikhlas untuk berbagi.
Menggembleng nafsu mengekang nikmat dunia. Agar godaan dosa pergi jauh dari diri."
Kata hatiku ketika sore hari menjelang berbuka puasa:
"Untuk buka puasa sudah kusiapkan es buah segar. Makannya gudeg telur dan daging ayam
plus sambel krecek. Ditambah krupuk udang renyah yang di lidah terasa cetar. Tak
ketinggalan tiga batang rokok nikmat dengan cita rasa kretek. Semua itu telah tersaji di atas
meja lebar. Siap disantap saat suara adzan maghrib terdengar serak-serak becek."
Dari dalam kerangkengnya setan berkata sambil tertawa:
"Ha, ha, ha, ha...! Tak lagi berlaku tuntunan berpuasa. Hanya ada tuntutan sekitar perut saja.
Ha, ha, ha, ha...!"
Ramadhan 2022
Sukma Putra Permana lahir di Jakarta pada tahun 1971. Buku puisi tunggalnya: Sebuah Pertanyaan Tentang Jiwa Yang Terluka (2015) dan Dia Yang Terjatuh Di Rimba Dunia. Ketika Satu Sayapnya Patah (2021). Giat berproses kreatif di Komunitas Belajar Menulis Yogyakarta sebagai penulis puisi dan editor naskah buku. Sekarang tinggal di Bantul -
D.I.Yogyakarta.
.
Komentar
Posting Komentar